
Beberapa waktu yang lalu seorang teman jauh bertanya pada saya via chat. " How did you cure your pain of love?" Saya tertawa, kemudian balik bertanya, " How did you know that i already cure the pain?" Kemudian dia menjawab, " karena gue liat, lo udah jadi cewe yang lebih tegar waktu ngadepin patah hati lo" Ehem, mungkin ini yang harus saya jelaskan. Berkali-kali patah hati dan bisa tetap survive menjalani kehidupan dengan "baik", sebenarnya menurut saya itu adalah pilihan individu.
In my opinion, ada dua pilihan : Pertama, menikmatinya alias mengasihani diri yang menjadi korban patah hati. mengasihani disini saya ibaratkan sepeti ini, ketika kamu sadar kalau kamu adalah korban, dan mengalami patah hati, tapi kamu tetap berkutat dengan rasa itu dengan asumsi bahwa memang kamu pantas mendapatkannya, memang kamu bukan wanita yg sempurna yang berhak mendapatkan perlakuan lebih baik. biasanya tipe wanita seperti ini akan meng-update status di akun pribadi dengan kata-kat meng-iba, merana, dan tersakiti cinta. dengan harapan bisa bertahan sampai suatu saat si "pelaku" yang membuat kamu sakit hati bisa merasa iba atas penderitaan yang kamu rasakan, kemudian merasa bersalah, dan meminta maaf kepadamu. Come on, girl! kita ini adalah makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan kita, dan kita sangat pantas untuk dihargai. Jika ada laki-laki yang membuat kamu patah hati, itu karena mereka tidak menghargai kamu sebagai individu yang special. saya tentu saja tidak bisa memungkiri bahwa saya pernah berada dalam posisi ini. Patah hati, merana karena cinta, lalu mulai update status mellow dan melankolis dengan harapan si "pelaku" yang telah membuat saya patah hati merasa sedikit tersindir. tapi kemudian saya sadar, apa gunanya? kalau si "pelaku" sadar, kalau ga? hanya mempermalukan diri sendiri khan? Pilihan yang kedua, mengobati alias melepaskan semua kepahitan tersebut. terdengar naif memang. tapi bagi saya, proses mengobati patah hati saya ibaratkan seprti mendaki gunung. sulit? memang. melelahkan? tentu saja. kesulitan dan rasa lelah itu juga yang akan kamu rasakan ketika berusaha mengobati patah hati. rasa takut? pasti saja ada. rasa takut akan kamu rasakan ketika kamu takut terjatuh. Iya, takut terjatuh pada rasa sakit hati yang sama. tapi hal itu tidak boleh membuat kamu menyerah. rasa sakit hati itu selayaknya mampu membuat kamu yakin, bahwa kamu tidak lagi ingin merasakannya. Dan rasa takut itu selayaknya mampu membuat kamu semakin bersegera untuk mencapai puncak. Dan kamu berhasil mencapai puncak! Yak! itu lah titik klimaks dari perjuanganmu. ketika kamu sampai puncak apakah sakit hatimu sembuh? Tentu saja tidak! ketika kamu sampai puncak yang kamu rasakan adalah rasa lelah yang beribu-ribu kali lipat. ketika di puncak, kamu tentu saja akan melihat ke bawah dan itu berarti kamu melihat masa lalu. betapa sulitnya mencapai puncak, betapa lelahnya, dan betapa besarnya perjuanganmu. Mungkin kamu akan menangis, menangis karena ketika melihat masa lalumu dan kamu menyadari betapa terpuruknya kamu saat itu, menangis karena menyadari betapa sulitnya rintangan yang kamu hadapi. menangis karena harus meninggalkan itu semua jauuuuh dibawah sana.
MENANGISLAH! karena memang itulah kenyataannya. menangislah, karena kamu sudah berasa di titik klimaks perjuanganmu. menangislah karena akhirnya dengan begitu kamu akan menyadari semuanya. menangislah karena kamu berhasil terlepas dari semua kepahitan itu. kamu berhasil! teriaklah di puncak keberhasilanmu. dan dengan begitu kamu telah siap untuk kembali ke bawah, to face reality. to let everyone know that the new you has already born! hal ini juga yang pernah saya jalani. ketika benar-benar terpuruk dan berusaha melepaskan kepahitan, saya berusaha keras. dan hal tersebut sangat melelahkan, sulit dan saya ketakutan. takut kalau saja usaha saya tak ada hasilnya. lelah karena semakin saya berusaha keras melepaskan rasa sakit itu, semakin dia menghantam saya. tapi setelah saya berada pada titk klimaks usaha saya, titk klimaks rsa lelah saya, saya akhirnya menyadari bahwa saya telah melewatinya. saya jenuh dengan rasa sakit hati ini. dan saya melepaskannya! saya menangis dan teriak sekeras-kerasnya. saya berhasil! saya sadar bahwa saya sudah cukup lama berkutat dengan rsa sakit yang sama sekali tidak ada gunanya. saya sadar bahwa selama ini saya hanya bermanja-manja dengan rasa sakit itu, dan malah semakin menyakiti saya. saya sadar bahwa saya telah kembali kepada reality yang selama ini saya hindari. dan kamu juga harus begitu! Just take it or leave it! P.S: kamu yang lebih paham how to treat yourself. XOXO!